Senin, 22 Januari 2024
Siang dan Malam
Resensi Novel Hujan Tere Liye
Resensi Buku Goosebumps Hantu Penunggu Sekolah
Resensi Buku The Bliss Bakery #2 A Dash of Magic
Jumat, 27 Januari 2023
Bikin Merinding, TXT Kembali Dengan Sugar Rush Ride, Bahas Tuntas The Name Chapter: Temptation
![]() |
| sumber twt @BIGHIT_MUSIC |
Sugar Rush Ride dibuka dengan manis, dengan para anggota TXT yang terdampar di sebuah pantai. Bermula dari adegan tersebut, TXT menyuguhkan tampilan memesona dari tarian Sugar Rush Ride dengan alam Indonesia yang indah.
![]() |
| sumber TXT Sugar Rush Ride MV |
1. Tampil
di Indonesia
4 Januari lalu MOA dihebohkan dengan keberangkatan para anggota TXT yang dispekulasi akan terbang ke Indonesia, dan hal tersebut diwujudkan dengan rilisnya video klip Sugar Rush Ride. TXT menampilkan keindahan beberapa tempat di pulau Bali, yaitu Savana Tianyar, Karangasem, Pantai Gunung Payung, Air Terjun Banyu Wana Amertha Buleleng, dan Kebun Raya Bali Bedugul. Tidak hanya itu, dalam pembuatan video klip ini staff bighit juga bekerjasama dengan tim produksi lokal yaitu Bali Proud.
2. Devil
by the Window
Perilisan
Sugar Rush Ride ini juga menandakan era baru dari TXT yaitu The Name Chapter,
pada lagu tersebut TXT menyebutkan bahwa ia menginginkan lebih dan lebih,
godaan tersebut semakin besar karena rasanya yang manis dan membuat candu. Hal
tersebut juga sudah di-spoiler pada poster promosi perilisan The Name Chapter,
dengan gambar jalanan yang terlihat bergelombang menuju sebuah jendela, jendela
ini digambarkan sebagai portal menuju dunia fantasi atau godaan yang besar, dan
jalanan yang bergelombang itu menggambarkan rasa candu yang tidak dapat
dikendalikan.
3. Pencarian
Sebuah Nama
Nama
menjadi bagian utama pada era bermusik TXT, apa yang disebut dengan nama? tentu
saja hal tersebut menjadi pertanyaan yang begitu menjebak, karena jika ditanya
mengenai siapa itu TXT pasti masih banyak yang menjawab kalau TXT merupakan “adik”
dari BTS dan label nama tersebut tanpa sadar terikat dengan TXT. Namun, tentu
saja keberadaan nama tersebut menjadi beban baru, karena TXT memiliki nama nya
sendiri yang menjadi jati dirinya. Hal, ini ditampilkan melalui album ini, di
mana TXT berusaha mencari jalan untuk mencari jati dirinya sendiri, seperti
yang dijelaskan sebelumnya mengenai jendela dan jalanan yang bergelombang, saat
ini TXT sedang mencari jalannya menuju “the final destiny” takdir sebenarnya
yang mereka miliki.
4. Sugar
Rush Ride
Apa
sih yang disebut dengan Sugar Rush Ride, Sugar Rush itu merupakan istilah untuk
seseorang yang merasa begitu bahagia dan semangat setelah memakan makanan manis
seperti efek dopamine. Perasaan tersebut diraskan oleh anggota TXT pada
lagunya, karena sebuah godaan yang begitu besar pada jendela yang baru ia buka.
Lagu Sugar Rush Ride memperlihatkan perasaan kecanduan yang berlebihan kepada
seseorang, atau sesuatu yang menjadi tujuan dari perjalanan tersebut, apakah
perasaan candu ini dapat berhenti dan TXT dapat menemukan jalan yang
sebenarnya.
Ramdhani
Kusuma Putra
Ig: ramable__
Tiktok: ramable_
Rabu, 17 Juni 2020
Jakarta Butuh Bernapas
Jakarta telah genap menyandang sebagai Ibukota Indonesia selama 54 tahun, sejak saat itulah berbagai pembangunan dilakukan oleh pemerintah. Mulai dari dibangunnya Hotel Indonesia, Sarinah, Stadion Gelora Bung Karno, dan patung selamat datang. Sejak saat itu pembangunan terus gencar dilakukan oleh pemerintah. Masih hangat rasanya pada tahun 2018 lalu saat diselenggarakannya Asian Games di Jakarta, berbagai fasilitas diperbaiki dan bangunan-bangunan baru berdiri untuk menyokong keberlangsungan perhelatan empat tahunan sekali tersebut.
Tahun 2020 menjadi cerita bersejarah bagi kota Jakarta, kabar pemindahan ibukota telah ramai sejak tahun lalu dan kabarnya waktu Jakarta sebagai ibukota akan berakhir di bulan Juni tahun ini. Berbagai hal telah dilalui sebagai daerah khusus ibukota. Sampai tahun 2020 menjadi salah satu tahun bersejarah di kota Jakarta, Indonesia, bahkan seluruh dunia. Pandemi covid-19 mulai merebak dan menjadi sebuah wabah yang menghampiri setiap negara di dunia, tak terkecuali kota Jakarta. Sejak kasus pertama pada Februari lalu, kasus-kasus baru terus bertambah, keringat terus dikerahkan oleh para tenaga medis, relawan, pekerja sosial dan jajaran pemerintah.
Terutama kami masyarakat yang berjuang demi mempertahankan harapan itu tetap ada.
Rasanya keberadaan Covid-19 menjadi babak baru bagi kota Jakarta, sejak kasus pertama pada Februari lalu dan mulainya penerapan lockdown wilayah dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), membuat kondisi alam di Jakarta dapat bernapas lebih baik. Dilansir melalui kompas.com Jakarta pernah mendapatkan predikat nomor satu sebagai kota dengan indeks kualitas udara terburuk nomor satu di dunia pada tanggal 29 Juli 2019, sejak saat itu Jakarta seakan tak ingin lepas dari peringkat sepuluh besar. Kabar baiknya sejak ditetapkan PSBB pada 15 Maret lalu kondisi udara Jakarta kian membaik, hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh berkurangnya penggunaan kendaraan bermotor. Seperti yang diketahui bahwa asap kendaraan bermotor menjadi penyebab nomor satu polusi udara. Penerapan kebijakan Work From Home (WFH) membuat mobilitas kendaraan menjadi berkurang, ditambah lagi pembatasan keluar masuk kendaraan dari dalam dan luar kota Jakarta. Kendaraan umum juga ikut dipangkas dan lebih dari setengahnya tidak dapat beroperasi, kesadaran masyarakat untuk tidak keluar rumah juga menjadikan Jakarta lebih segar untuk sementara waktu.
Setidaknya kebijakan ini membuat ¾ jalanan kota Jakarta menjadi lebih lengang. Hasilnya udara di kota Jakarta menjadi lebih segar dan langit yang biasanya ditutupi asap kelabu dapat bersinar lebih cerah. Langit kebiruan dan awan putih yang muncul dengan jarang, hampir tak pernah kita lihat sejak 2019 lalu. Malam yang biasanya dipenuhi kerlap-kerlip lampu juga menjadi lebih cerah karena langit yang dipenuhi bintang, bukan hanya polusi udara, namun polusi cahaya dan polusi suara juga ikut berkurang.
Tapi, hal ini tentu saja bukanlah kabar baik bagi kita, memang sebaiknya kita mengambil hikmah dan sisi positif dari peristiwa yang terjadi saat ini. Walaupun begitu, ini bukanlah solusi jangka panjang yang dibutuhkan kota Jakarta. Perlu kebijakan yang dapat mengubah perilaku dan gaya hidup masyarakat kota, agar menjadi sebuah kebiasaan baru. Seperti pencanangan new normal yang seharusnya bukan hanya baik bagi kehidupan manusia, tapi juga bagi lingkungan.
Salah satu solusi jangka panjang yang dapat dilakukan untuk mengembalikan Jakarta yang asri adalah pembangunan dan perluasan ruang terbuka hijau. Dilansir melalui tempo.com, ruang terbuka hijau (RTH) pada Februari 2019 lalu hanya mencakup 14,9% dari luas kota Jakarta, tak sampai seperempat dari wilayah Jakarta. Kabarnya pada 2020 ini akan dilakukan pembangunan hutan kota di 16 lahan yang tersebar di setiap wilayah kota Jakarta, melihat dari kondisi sekarang sepertinya mimpi tersebut akan tersimpan sedikit lebih lama melihat aktivitas kerja belum dapat kembali seperti semula. Namun, cita-cita besar tersebut tentu saja menjadi harapan bagi keberlangsungan kondisi lingkungan kita. Memang penambahan 16 wilayah hutan kota ini masih sangat kurang untuk memperbaiki kualitas udara kembali menjadi normal. Pemerintah perlu sedikitnya mengubah sebanyak 30% wilayah untuk dijadikan ruang terbuka hijau (RTH). Selain itu penambahan alat air quality monitoring system juga perlu diperbanyak dan disebar di setiap penjuru kota Jakarta, agar pemerintah dapat mengetahui lebih pasti penyebab dari pencemaran udara, dan melakukan penanggulangan lebih cepat.
Selain itu kebiasaan yang sering kita lakukan setiap hari juga dapat mulai kita perbaiki. Pengurangan penggunaan kendaraan bermotor, dapat dijadikan solusi dan ditetapkan sebagai kebijakan baru di masa depan. Beralih dari kendaraan pribadi dengan kendaraan umum bukan hanya mengurangi macet, namun juga dapat mengurangi polusi udara. Kondisi sekarang yang mewajibkan kita menggunakan masker membuat saya teringat dengan peristiwa tahun lalu saat kebakaran hutan terjadi di Riau dan asapnya yang menyebar sampai ke luar Indonesia dan menjadi perbincangan internasional. Saat itu kondisi Jakarta juga mengalami puncak polusi udara sepanjang tahun, bahkan wilayah tempat saya belajar sempat mendapat predikat sebagai wilayah Jakarta dengan kondisi udara terburuk. Saat itu banyak mahasiswa yang menggalang dana untuk membantu korban dan kerugian akibat kebakaran hutan di Riau, juga pembagian masker yang dilakukan pada tahun lalu karena kondisi udara yang kian memburuk. Rasanya sedikit lucu jika diingat sejak 2019 lalu kita telah diperingati untuk menggunakan masker karena polusi udara, namun tak cukup untuk membuat manusia sadar akan lingkungan. Sekarang, setelah pandemi covid-19 muncul baru masyarakat saling memperebutkan untuk memiliki masker.
Pandemi ini dapat menjadi titik balik yang bagus untuk kondisi lingkungan yang lebih baik di masa depan, menurut saya pemerintah dapat mengambil kesempatan ini untuk membangun kebiasaan dan aturan baru bagi masyarakatnya. Masyarakat yang semakin peduli terhadap kesehatan, bisa mulai ditetapkan untuk pengurangan penggunaan kendaraan bermotor, pembakaran sampah dan konsumsi rokok yang asapnya dapat mencemari udara. Kita juga mengetahui bahwa kebiasaan buruk di atas juga dapat meningkatkan potensi terjangkitnya covid-19, karena kesehatan pernapasan menjadi celah utama bagi virus ini.
Kondisi udara yang membaik ini, semoga dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Rasa peduli itu akan terus ada, dan melahirkan harapan-harapan baru di masa depan, agar tak hanya kehidupan manusia, namun hewan, tumbuhan dan lingkungan juga memiliki masa depan yang baik.
Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa lihat di sini.
Jumat, 22 Mei 2020
Generasi Terakhir di Bumi
Tulisan kali ini kurang lebihnya akan berisi sebuah keluhan dan berbagai rasa yang kualami selama pandemi covid-19. Setidaknya sudah tiga bulan kita hidup terbelenggu di dalam rumah dan tidak bisa melakukan kehidupan yang normal seperti dahulu. Semua roda kehidupan rasanya terhenti, taman bermain yang tak terisi tawa lagi, sekolah yang kosong akan ilmu, dan tempat kerja yang beristirahat. Kami semua bisu dan tak mampu melakukan apapun.
Masih segar rasanya waktu kabar kasus pertama muncul di Depok bulan februari lalu, minggu itu saya tengah gencar melakukan bimbingan tugas akhir bersama dengan dosen saya, dan akhir pekannya mendapat kabar seperti itu. Saya kira mungkin kasus ini seperti flu biasa awalnya, selagi dua pasien itu sudah ditangani mungkin akan selesai. Saya masih beraktifitas seperti biasa, kota masih ramai, bus-bus masih sesak dipenuhi penumpang, namun rasanya ada yang berbeda semuanya terasa saling mencurigai, dan waspada. Saat mendengar deham, mata saling menatap curiga “Ah, korona nih, korona pasti.”
Sampai akhirnya satu minggu pertama kasus semakin bertambah, dan pemberitahuan tentang penutupan fasilitas masyarakat datang beruntun. Hingga akhirnya kota mengalami mati bisu.
Rasanya baru kemarin saya mengeluh karena mengalami kesulitan untuk melakukan bimbingan, sampai pusing memilih menu pecel lele atau ayam geprek untuk makan siang bersama dengan teman saya. Jika saya tahu hari itu adalah kali terakhir keadaan normal maka saya akan memilih untuk berhenti, nernapas dan menikmati setiap detiknya. Hingga hari demi hari berlalu, dan rasa rindu rasanya sudah menggunung. Saya merasa jadi orang paling kaya jika rindu dapat diuangkan.
Siklusnya mungkin sama dengan teman-teman yang lainnya, saya merasa bosan di rumah sampai rasanya stres dan tak kuat lagi di penjara di rumah. Tapi, jika saya egois dan memutuskan untuk keluar maka saya hanya akan menyulitkan orang lain. Begitu terus pertentangan yang terjadi di dalam isi kepala saya saat itu.
Kalian pasti pernah merasakan lelah sampai rasanya menangis pun tak sanggup, hanya ada pilu yang menyayat karena tak kunjung disalurkan. Minggu-minggu awal saya kalut karena tentu saja kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan akan berkurang, padahal niat besar untuk membantu keluarga di tahun ini sudah terpupuk dari lama, tapi pupus begitu saja. Mungkin, saya masih lebih beruntung walaupun tak memiliki pekerjaan tak membuat hidupku berhenti. Tapi, saat melihat puluhan, ratusan bahkan ribuan pekerja mengalami PHK secara besar-besaran. Segala sumber ekonomi terputus, dan kami hanya meraung tak sanggup berbuat apa-apa. Padahal kami hanya bekerja di bawah nama besar mereka, mengambil sisa-sisa kepemilikan yang tak seberapa, namun begitu adanya.
Sampai semuanya berhenti, dan memaksa untuk tetap bertahan hidup.
Situasi seperti makin tak terkendali, ketika mereka yang egois berbuat seenaknya. Mereka dibalik kursi-kursi hangatnya, dengan santai mengatur pola kehidupan kami. Kebutuhan pokok untuk penanggulangan virus mengalami kenaikan harga yang melonjak tinggi, kesempatan bekerja semakin dibatasi, dan tak ada yang berada di sisi kami. Pada akhirnya kami dari kelas bawah menjadi korban sesungguhnya, tak peduli seberapa serius penyakit yang kita hadapi sekarang.
Kita tidak tahu apa yang terjadi di sana, atau bagaimana dengan rencana mereka kedepannya. Kami hanya perlu percaya dengan apa yang ditampilkan, menutup mata, telinga dan semua yang membuat kepercayaan itu terasa abu-abu. Hingga akhirnya ketika kasus meningkat lebih banyak, kami hanya pasrah, karena tak banyak yang bisa didapatkan namun hidup masih tetap harus berjalan. Mungkin ini “The New Normal” yang dimaksud, ketika kehidupan kembali menjadi normal dengan nyawa yang dipertaruhkan, dan mereka yang duduk di baliknya.
Aktifitas kembali menggaung seperti tiga bulan lalu, padahal tak ada sedikit pun titik terang akan pandemi ini. Namun, seperti wacana tersebut semuanya kembali normal. Bukan egois, kami hanya berusaha untuk bertahan hidup. Pilihannya, jika tak mati kelaparan di rumah atau mati dengan virus yang menggerogoti tubuh di luar sana.
Saya sempat tak sanggup berkata ketika akhirnya, mereka yang duduk di sana kembali membuka roda kapitalis. Ketika pusat perbelanjaan kembali dibuka, tempat nongkrong yang mulai dipadati dan segala hal yang membuat kami diatur untuk keluar dan membuat kasus ini menjadi semakin buruk. Rasanya harapan kami yang berusaha untuk diam dan memutus persebaran virus menjadi pupus. Usaha dan peluh yang dikeluarkan para tenaga medis menjadi sia-sia karena orang-orang egois di luar sana. Mereka tak hanya mempertaruhkan hidup orang lain, namun nyawa mereka sendiri dan rindu dari keluarga yang mereka tahan seperti sebuah bom waktu. Para tenaga medis pasti menangis lebih banyak dari kami, dan mereka adalan orang-orang terkuat dari penghujung generasi kami.
Anak-anak yang biasanya bermain, mereka menangis dan tak dapat berbuat apa-apa. Mereka yang tak mengerti apapun, membiarkan hidupnya dibawa kemanapun cerita ini berjalan. Oleh mereka, orang-orang dewasa yang duduk di sana.
Sempat terpikirkan, apakah mungkin keadaan saat ini hanyalan sebuah rekayasa atau mungkin semuanya telah diatur sedemikian rupa. Hingga kami yang hidup di bawah langit-langit gugur satu persatu, apakah itu tujuannya? Kuharap tidak ada yang memiliki niat seperti itu, kuharap semua orang sungguh-sungguh untuk saling peduli dan memberikan genggaman tangannya satu sama lain.
Sampai akhirnya rindu dan harapan kami bisa terwujud, senyum anak-anak akan kembali hadir, dan kami yang tenang dengan kehidupan yang lebih baik.
Terimakasih untuk kalian yang berusaha dengan keras untuk menyelamatkan setiap nyawa yang ada, kaya maupun miskin, semuanya sama berharganya kan. Untuk kalian yang tetap menyimpan rindu sampai saat ini, dan kalian yang berusaha keras menjaga lampu-lampu di rumah tetap bercahaya. Jika kami adalah generasi terakhir di bumi semoga harapan akan selalu ada, semoga orang-orang saling bertukar kebaikan hingga akhir.
Rabu, 01 April 2020
Impian Besar Anak-Anak - Buku "Totto-chan’s Children"
Sebagai permulaan, aku sendiri sangat bangga dapat membaca buku ini dan berkesempatan mencoba untuk memberikan ulasan terhadap buku Totto-chan’s Children karya Tetsuko Kuroyanagi.
Buku ini merupakan sejarah panjang yang menceritakan tentang kisah perjalanan kemanusiaan oleh Tetsuko di seluruh dunia. Tetsuko yang ditunjuk sebagai Duta Kemanusiaan UNICEF berusaha membagikan setiap detik kisahnya kepada dunia.
Judul: Anak-Anak Totto-chan (Perjalanan Kemanusiaan Untuk Anak-Anak Dunia)
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 328 halaman
Pada mulayanya saya sempat keliru jika mengingat tentang Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela, saat pertama kali membacanya dua tahun lalu saya sempat mengira bahwa buku ini adalah novel anak-anak yang mungkin lebih ditujukan terhadap orang dewasa yang isinya hanyal cerita fiksi. Namun, setelah membaca buku ini saya dapat memastikan bahwa Gadis Cilik di Jendela merupakan autobiografi milik Tetsuko-san.
Buku ini menceritakan tentang Tetsuko yang ditunjuk sebagai Duta Kemanusiaan oleh UNICEF berkat bukunya Totto-chan Gadis Cilik di Jendela. Pada buku ini ia menceritakan tentang perjalanannya sejak tahun 1984 hingga 1997 ke negara Tanzania, Nigeria, India, Mozambik, Kamboja, Vietnam, Angola, Bangladesh, Irak, Etiopia, Sudan, Rwanda, Haiti dan Bosnia-Herzegovina.
Pilu sekali membaca setiap rasa sakit yang dialami akibat peperangan di seluruh dunia, sepertinya Tetsuko-san memang sangat mengerti tentang anak-anak. Buku ini menambah wawasan saya tentang sejarah berbagai negara di dunia, ternyata bagi saya mempelajari sejarah dengan cara seperti ini dapat memberika pandangan yang berbeda dan jika boleh jujur saya lebih paham jika dijelaskan dengan cara seperti ini.
Sebelumnya saya tidak tahu jika dampak peperangan akan semenyakitkan ini, bagian yang paling saya ingat jika membicarakan tentang peperangan, terutama di Indonesia sendiri yaitu para tentara dan warga Indonesia yang dengan tekad kuat dan tak ada rasa takut sedikitpun berusaha untuk mempertahankan negaranya. Namun, setelah membaca buku ini saya melihat kisah-kisah lain yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.
Tetsuko menulisnya dengan baik dan sederhana, rasanya ia memang ingin menyampaikan ceritanya kepada semua kalangan usia, dan profesi. Ia hanya berharap buku ini dapat membuat manusia saling mengasihi, bukan begitu?
Selain itu, kita juga diberikan pendidikan sejarah tentang negara-negara yang dikunjungi Tetsuko pada buku ini, walaupun ia tidak berfokus lebih dalam tentang apa yang menyebabkan peperangan dan sejarah mengenai negara tersebut, kurang lebihnya kita tetap akan tahu garis besar mengenai apa yang terjadi di sana.
Selama membaca buku ini saya tak lepas dari menitikkan air mata ketika membaca cerita anak-anak di berbagai negara, mulai dari anak-anak yang harus menahan lapar karena tidak ada yang dapat mereka makan, berbagai penyakit yang menjangkiti anak-anak, kekerasan seksual, pembunuhan dan berbagai hal keji lainnya. Saya tidak habis pikir dengan mereka yang tega melakukan hal tersebut terhadap anak-anak, mereka bahkan tidak tahu apa kesalahan mereka hingga pantas mendapatkan hal tersebut.
Ada satu kalimat dalam buku ini yang membuat hati saya sakit yaitu,
“Anak anak meninggal dalam kebisuan, mempercayai kita orang orang dewasa.”
Hal tersebut memang benar adanya, anak-anak terlahir tanpa dapat berbuat apa-apa dan hanya mengikuti apa yang orang dewasa lakukan. Jika orang dewasa akan merintih ketika merasa kelaparan, atau menangis ketika rasa sakit itu semakin besar. Maka berbeda dengan anak-anak, mereka hanya akan diam.
Kurasa semua orang pada saat seperti ini perlu membaca buku seperti ini lebih banyak, agar kita tidak berbuat kebodohan lebih banyak, agar tidak ada anak-anak yang tersakiti lagi. Bukankah menyenangkan dapat melihat anak-anak dapat tersenyum dan bercerita tentang impiannya?
Sepertinya tulisan ini berada di luar ekspektasi kalian, karena sejujurnya ini juga yang pertama bagi saya. Tapi saya cukup senang dapat menceritakan perasaan saya setelah membaca buku ini.
Buku Totto-chan’s Children akan baik dibaca oleh semua kalangan, karena perjalanan ini setidaknya dapat memanusiakan manusia agar kita dapat saling mengasihi. Seperti kata Tetsuko-san, buku ini juga mengajariku untuk hidup sepenuh hati dan jangan mengeluh.
Baiklah, saya akan menutup tulisan ini dengan kalimat lain pada buku ini, semoga kalian juga akan mengerti.
“Semua orang sama. Marilah kita semua bersahabat.”
Setiap orang butuh sahabat, teman untuk tertawa.
Anak-anak yang kelaparan pun ingin jadi temanmu.
~Tetsuko Kuroyanagi
Sabtu, 26 Oktober 2019
Stop Pembajakan Buku, Mulai Dari Kamu!!
Aku mulai rajin membagikan tulisanku di sebuah aplikasi baca gratis, di sana aku bisa bebas membagikan tulisan apapun yang sesuai dengan hal yang kusuka. Selain itu ada begitu banyak cerita yang kudapat dari aplikasi baca tersebut. Di antara penulis lainnya, sering tersebar “gosip” panas tentang penulis yang tulisannya disalin tanpa izin dan dibagikan seolah-olah tulisan tersebut adalah buah karyanya sendiri. Walaupun aku bukan salah satu dari penulis yang menjadi korban tersebut, kendati diriku juga rajin menulis maka emosiku ikut terpicu mendengarnya. Terkadang aku juga ikut serta meneror penjiplak tersebut, lalu menagih jawaban darinya. Hal unik yang kudapat adalah ia malah berperilaku seolah-olah tak bersalah dan membela dirinya sendiri. Tak butuh alasan lagi aku memilih untuk melaporkan akunnya untuk di-non-aktifkan.
Selain sekelumit “drama” pada aplikasi baca tersebut, aku juga masih suka membaca buku fisik. Berjalan-jalan keliling kota sambil mencari buku adalah me time tersendiri bagiku, ada perasaan bahagia ketika buku yang kucari bisa ditemukan. Hingga aku teringat sebuah percakapan dengan seorang penjual buku di sore hari, “Mas, saya cari buku ini,” ucapku sambil memperlihatkan foto buku yang kucari. “Sebentar ya Mas, saya ambil dulu di belakang.” Tak lama penjual toko buku tersebut kembali dengan buku yang terlihat sama persis. Setelah menerimanya kulihat kualitas buku tersebut agak berbeda, mulai dari covernya yang tipis dan warnya sedikit berbeda dibandingkan dengan yang ada di foto. Lalu, kubuka setiap halaman dan benar saja kualitas kertas buku tersebut juga sama, kertasnya sangat tipis mirip seperti kertas koran, lalu tulisannya yang terlihat seperti luntur.
“Mas, kok ini kertasnya kaya gini ya? ini aslinya emang kaya gini?” “Ya enggak dong mas, harganya aja ini murah banget, coba mas nya cari yang asli harganya berapa.” Benar juga pikirku, harga buku-buku di sini ternyata sangat miring. “Ini kalau aslinya bisa sampe 150ribu mas, kalo di sini cuman 35ribu, kadang orang tua anak banyak yang jauh-jauh ke sini buat beli buku, katanya kalau beli langsung dari sekolah terlalu mahal.”
“Mahasiswa juga kalau cari buku pasti ke sini,” tambahnya.
Aku menimang-nimang untuk membeli buku tersebut, memang sih harganya murah. Namun, memang benar kualitas kertasnya membuatku pusing ketika membacanya. Dengan ragu aku mengembalikan buku tersebut dan berlalu dengan alasan ingin melihat-lihat di toko sebelahnya.
Ternyata pembajakan buku terjadi di mana-mana, mau pembajakan secara online atau sebaliknya. Para pembaca juga memilih mengaminkan untuk membeli buku-buku bajakan tersebut, dan alasan yang paling miris mereka memilih untuk membeli buku bajakan adalah harganya yang mahal. “Pingin banget baca buku ini, tapi harganya gimana ya bisa-bisa enggak makan berapa hari kalo beli yang asli,” begitu ucap temanku ketika ditanya perihal pembajakan buku.
Rasanya aku ingin membiarkan saja pembajakan buku tetap berjalan, tapi malah berakhir terjadi sebuah pergolakan batin dalam diriku. Membajak buku itu salah, tapi harganya tentu saja menjadi pertimbangan besar. Berusaha menengahkan pergolakan batin tersebut, aku mencoba untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Rasanya bersabar sedikit untuk memeluk buku yang ingin kita baca itu adalah jalan keluar yang tepat, menabung sedikit leibih lama untuk buku dengan kualitas yang baik akan lebih bernilai. Selain itu di masa ini banyak sekali e-commerce yang ikut menjual buku-buku dengan potongan harga yang menggiurkan, dan tentu saja buku itu asli. Jika masih ragu, sekarang banyak penerbit yang menjual bukunya secara online dan harganya bisa lebih terjangkau. Salah satunya buku-buku dari Mizan, kita bisa membeli buku-buku Mizan dengan berbagai promo menarik yang rutin dibagikan oleh Mizan store.
Dengan membeli buku asli, kita menjadi bagian pembaca yang bijak dengan memberikan penghargaan terbesar atas pemikiran-pemikiran luar biasa dari penulis buku tersebut. Jadi, yuk mulai hentikan rantai pembajakan tersebut.
Minggu, 15 September 2019
Jangan Asal Pilih, Ayo "CEK KLIK" Sebelum Belanja
Kasus keracunan makanan masih menjadi momok yang serius di dunia, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tercatat ada 600 juta kasus penyakit yang disebabkan oleh makanan terjadi setiap tahunnya. Tentu saja hal tersebut juga merupakan perhatian khusus bagi Indonesia. Semua makanan dan obat yang beredar di Indonesia telah melalui pemeriksaan secara khusus dan rutin oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) namun, kenapa kasus keracunan masih kerap kali terjadi di Indonesia?
“Puluhan Santriawati di Nglegok Blitar diduga mengalami keracunan Massal,” begitu headline berita yang saya baca kemarin sore, sempat terbersit sebuah pertanyaan kenapa di masa sekarang ini masih ada saja kasus keracunan yang terjadi di Indonesia, padahal pengawasan yang ketat dengan gencar dilakukan. Lalu, saya melihat jajanan kemasan yang tersebar di warung-warung kecil dekat rumah. Ternyata masih banyak camilan yang tidak memiliki nomor BPOM pada kemasannya.
Banyak oknum-oknum yang memanfaatkan warung-warung kecil atau pedagang kaki lima untuk menjajakkan jajanan ilegal tersebut, para pedagang kecil pun masih sedikit kesadaran untuk mengecek apakah produk tersebut telah lolos uji BPOM atau tidak, bahkan sekedar untuk mengecek tanggal kedaluwarsa pada kemasan saja masih kurang.
Oleh sebab itu, saya ingin membagikan tips menarik untuk pembaca agar kita, keluarga, sahabat, dan lingkungan tempat kita tinggal dapat bebas dari kasus keracunan makanan dan produk-produk ilegal.
BPOM membuat sebuah program yang dinamakan dengan “CEK KLIK” , saya akan menjelaskan sedkit apa yang dimaksud dengan CEK KLIK.
CEK KLIK merupakan singkatan yang diambil dari kata Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa.
Langkah pertama yang perlu kita lakukan sebelum membeli obat dan makanan adalah “Cek Kemasan” apakah kemasan produk tersebut dalam kondisi baik, masih disegel dengan rapih, tidak berlubang, sobek, penyok dan kemungkinan kerusakan lainnya pada kemasan produk. Kedua adalah “Cek Label”, informasi produk yang tertera pada label juga perlu kita cermati sebelum memilih produk, apakah produk tersebut sesuai dan aman dengan keperluan dan kondisi yang kita rasakan. Selain itu informasi asal produksi makanan dan obat-obatan tersebut juga perlu kita cek dengan teliti.
Saat ini BPOM juga memudahkan kita untuk mengecek apakah makanan dan obat yang kita beli telah memenuhi persyaratan kandungan zat gizi yang sesuai kriteria produk yang lebih sehat untuk dikonsumsi atau tidak, BPOM menambahkan sebuah logo yang dinamakan dengan “Pilihan Lebih Sehat” pada kemasan.
Langkah ketiga adalah “Cek Izin edar”, tentu saja label BPOM pada kemasan juga mencantumkan nomor yang menjadi tanda izin edar dari BPOM, status dari label tersebut juga bisa kita cek dengan memindai kode QR atau kode batang yang terdapat pada kemasan. Sekarang kita juga dapat lebih mudah untuk mengecek kode tersebut asli atau bodong, hanya dengan melalui aplikasi BPOM mobile.
Yang terakhir dan tak kalah penting adalah “Cek Kedaluwarsa”, langkah keempat adalah langkah paling mudah yang bisa kita lihat melalui kemasan semua produk makanan dan obat yang kita konsumsi wajib memiliki peringatan tanggal kedaluwarsa, dan baik digunakan. Hal tersebut perlu dilakukan pengecekan secara berkala, terutama bagi pemilik warung, minimarket dan ritel-ritel yang menyetok makanan dan obat dalam jumlah banyak. Kadang pemilik ritel masih segan untuk melakukan pengecekan, dan menganggap enteng kasus keracunan yang disebabkan oleh keteledoran tersebut.
Pada kasus ini kita sebagai konsumen wajib lebih cermat dan peduli untuk melakukan “CEK KLIK Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa” langkah kecil ini tidak hanya kita lakukan untuk diri kita sendiri, namun ada begitu banyak masyarakat Indonesia yang bisa kita selamatkan dengan melakukan “CEK KLIK.”
Selain kemudahan “CEK KLIK” yang diprakarsai oleh BPOM, Badan Pengawas Obat dan Makanan juga telah menyiapkan sebuah aplikasi yang dapat kita gunakan untuk mengecek apakah produk yang kita konsumsi telah lolos uji BPOM atau belum, kita juga bisa melakukan pengaduan untuk produk-produk ilegal yang tersebar di Indonesia, jadi STOP PRODUK ILEGAL. Berita-berita terkini mengenai kesehatan, produk makanan dan obat-obatan juga dapat kita akses melalui aplikasi “BPOM Mobile”.
Dengan adanya “CEK KLIK” mudah-mudahan masyarakat dapat lebih terbantu dalam memilih produk makanan, kosmetik dan obat-obatan yang tersebar di pasaran. Mau #BelanjaAman ? #AyoCekKLIK sekarang.
Senin, 12 Agustus 2019
Pertunjukan Wayang Golek Yang Eksklusif
Mungkin, saat ini kita akan lebih sering melihat wayang golek diekspor ke luar negeri untuk dipertunjukan kepada masyarakat luar, dari pada di Indonesia sendiri.
Kami Kembali Bermain
Pada halaman berikutnya di cerita ini, aku kembali pada momen-momen di mana dunia terasa begitu banyak dipenuhi dengan imajinasi...
-
Sumber: Ruang Sastra pengarang. Cerpen Seperti ular raksasa, tetapi dari besi ini ditulis oleh A.S Laksana² pada tahun 2016, ce...
-
oleh Ramdhani Kusuma Putra Kasus keracunan makanan masih menjadi momok yang serius di dunia, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia...




















